Bawa Aku

hands

Pada suatu hari, kita adalah sepasang makhluk pemalu. Maksudku, dua manusia pemalu—memangnya siapa aku memasang-masangkan aku dan kamu? Lalu kita memutuskan untuk mengambil langkah-langkah kecil untuk saling mendekat. Di sana memang ada keyakinan yang besar, tapi ketakutan juga tak begitu saja luput. Ia terus ada mencipta gelisah, sementara tangan kita saling menggenggam dan mencoba untuk melawan semuanya: kita pasti bisa melewati ini.

Katamu, segala sesuatu yang akan dilewati terasa berat. Kemudian aku menjawab ‘semua adalah proses hidup yang harus kita sebrangi’. Tidaklah heran jika kamu selalu meminta pendapatku terlebih dahulu sekedar bertanya ‘menurutmu apakah aku cocok dengan gaun ini?’. Aku yang tak pandai memilih model gaun seperti apa menjadi pura-pura bijak mengatakan ‘kamu terlihat seperti wanita yang tidak biasanya’. Dahimu mengkerut. Aku tahuekspresi wajah itu, kamu nampaknya tak terlalu setuju dengan pendapatku, lalu meninggalkan tempat itu.

Dulu, perasaanku adalah sebuah rahasia kecil, dan ketidakpedulianku atas setiap hal yang berkaitan dengan dirimu adalah sandiwara yang menyakitkan. Sampai akhirnya kita mencoba untuk saling bicara, bahwa memang ada cinta di sana yang telah lama menanti untuk kita rayakan—entah sejak kapan. Lalu kau tenggelam dalam pelukku, dan tanpa perlu bersuara, pesan itu sampai: bawa aku kemanapun kau mau.

Kini, kita telah sampai pada titik dimana kita saling berbagi, tertawa, becerita hingga larut malam—barangkali akan menjadi tradisi sampai suatu saat nanti kita menganggap: kita adalah pasangan yang serasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s