Menghabiskan Senja

sunset_by_onlyphoto

Perbincangan apa yang cocok untuk sepasang manusia yang menghabiskan waktunya pada sore hari. Memang tak banyak. Hanya menunggu senja hilang terkikis malam. Seandainya itu menjadi sebuah rutinitas—barangkali membosankan.

Kau terbiasa menghabiskan senja dengan menungguku di depan tempat tinggalmu yang hampir kau sebut itu rumah sendiri. Tak banyak yang kamu lakukan. Hanya memandangi dedaunan serta bunga-bunga penuh warna yang ada di pekarangan depan rumahmu. Sebab, bagimu hidup adalah seperti pelangi yang memiliki kombinasi warna—tak heran jika bunga di depan rumahmu beragam warna. Entah darimana kau suka pelangi yang terkadang ia selalu memberi ketidakpastian setelah turun hujan sepaket dengan angin kencang yang barangkali marah pada bumi. Tentu saja aku hanya bisa berharap apa-apa yang menjadi harapanmu semua terlaksana atas izin-Nya

Setidaknya aku masih ingat senyummu yang tak pernah lupa kau lemparkan ketika sambil menungguku. Senyum yang selalu tak dibuat-buat olehmu kadang membuat senja semakin malu bahwa ia harus segera pergi memanggil malam, agar garis senyummu tak dilihat banyak orang. Hanya aku.

Seringkali kita habiskan senja hanya untuk sekedar menghitung berapa banyak persimpangan di jalan yang sudah kita lewatkan, melakukan hal-hal yang sepertinya membosankan. Namun bagi kita itu semua kebiasaan waktu luang yang tidak boleh tidak dikerjakan. Entah darimana teori itu muncul di kepalaku. Yang pasti tak ada yang lebih indah kecuali menghabiskan senja bersamamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s