Menetapkan Pilihan

Bicycle-Wedding_20

Wanita memang sulit dipahami. Tapi begitulah mereka, bagian misteri perempuan yang justru menambah keindahannya. Satu pemahaman umum sederhana adalah wanita ingin disayangi dan dilindungi.

Soal secara fisik tentu kita memiliki selera berbeda-beda, dan itu sah-sah saja. Selera itu adalah hak prerogatif yang tidak bisa diganggu gugat. Yang pasti, bahwa inner beauty adalah hal terpenting, tapi inner beauty tanpa dibungkus dengan kulit luar yang apik akan menjadi kurang maksimal. Karena kita sebagai laki-laki sejati tidak mau merasa malu membawa istri dan mengenalkannya kepada orang lain, terutama sahabat dan keluarga.

Dan untuk itu semua kita tentunya harus selalu baik dan sopan terhadap orang lain. Berkawanlah sebanyak mungkin. Jangan memilih milih teman karena status sosialnya maupun dilihat dari uangnya. Tidak semua yang kaya itu baik, tidak semua yang miskin juga baik. Uang hanyalah sarana dan alat membeli sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan. Uang itu perlu, oleh karenanya aturlah uang dengan baik, dan jangan pernah membiarkan uang mengatur kita, apalagi sampai bisa membeli hati nurani.

Memilih wanita atau pasangan hidup itu mungkin kurang lebih mirip dengan memilih mobil. Ada begitu banyak ragam jenis mobil dengan spesifikasi yang berbeda. Kenali diri kita, ketahui apa yang menjadi selera kita.  Satu hal prinsip yang paling berbeda antara pasangan hidup dan mobil adalah : pasangan hidup itu abadi. Tidak bisa ditukar tambah kapan saja kita mau. When you get married, you married for life.

Jangan pernah menikah hanya karena merasa sudah umurnya harus menikah. Continue Reading…

Meragu

201a9cfdc121b039ff288d7e8372c11a

Aku sepenuhnya berharap pada waktu yang akan menuntunku pada arah kenyataan, dimana semua yang aku nantikan kini akan menjadi sebuah penantian yang sangat sakral untuk aku lakukan.

Semenjak malam sudah bukan menjadi milik kita lagi, bulan menatapku dengan separuh bentuknya. Hanya menatapku, dengan diam.

Apa yang sebenarnya kau cari dalam diriku? Kenyamanan yang amat dalam? Kemudian kita akan bahagia, saling bercengkrama tanpa ada dusta yang nyata? Ah, sepertinya bukan itu sebetulnya. Kita saling menatap tanpa suara yang menjadi tanda kebisuan: bahwa kita adalah sepasang manusia yang saling suka, namun enggan untuk berkata. Bisakah kau yang memulai dulu jika aku malu bertanya?

Kadang tak ada yang lebih bisu dari dua orang pemalu. Mereka saling menatap dengan hati termengu. Hanya mampu menatap—namun tak berani berucap.

Bisakah kau mulai perjumpaan waktu itu dengan sedikit bahasa tubuh yang mudah aku mengerti? Aku mulai mendramatisir malam yang penuh kebungkaman itu dan mulai berpikir bahwa seungguhnya kita bukanlah pasangan yang sama-sama suka, tapi kita sepasang jiwa pemalu yang saling meragu.

Jatuh Cinta Diam-Diam

tumblr_lbaijplmon1qdkcgh

Katanya, hidup itu harus berani. Berani mengambil keputusan dan juga menerima resikonya. Bisa saja kau memilih untuk berani melompati dasar jurang yang sangat dalam atau bila gagal kau harus menerima resikonya, mati di perut bumi yang kita huni sendiri. Tapi, aku lebih memilih berani mengungkapkan perasaanku padamu yang sudah bersarang lama di alam bawah sadarku, kusimpan rapi wajahmu dan kusembunyikan di bagian memori otak yang tak pernah aku gunakan untuk berpikir selain tentang dirimu. Boleh-boleh saja kan?

Sudah bertahun-tahun aku menyimpan rasa yang tak pernah kamu duga, rasa yang diam-diam berawal dari perjumpaan tak sengaja waktu itu, hanya aku dan semua postingan-postinganku selama tujuh bulan silam—itu semua tentang kamu. Tentang rasa jatuh cinta diam-diam yang nyatanya aku hanya bisa mendoakanmu di setiap ujung sholat malamku.

Seberapa besar kita ingin dicinta, sebesar itu pula kita harus memperjuangkannya. Dan aku memilih memperjuangkanmu, memperhatikanmu dan menjagamu dari sepatah kata yang kau anggap itu hanya basa-basi—padahal semuanya itu berawal dari hati.

Sore itu, beberapa menit setelah adzan ashar, kamu kerumah. Berdua dengan sahabatmu. Pipimu merah merona. Mungkin karena malu, atau terpesona, atau keduanya—entahlah. Yang pasti kamu ceria. Sebuah senyuman kecil dariku berhasil membuat bibirmu melengkung dan membalas senyumku. Kamu yang agak malu menatapku hanya mampu memalingkan wajahmu pada layar laptop di depanmu yang nampaknya sedang meng-copy film ke flasdiskmu dan juga setia menatap kita saling membisu. Apalagi sahabatmu yang sibuk menatap layar handphone. Sepuluh menit kita diam, enam ratus detik mulut kita terkunci dan entah kenapa kita masih betah dengan situasi seperti ini yang akhirnya membuatku bertanya-tanya: kapan kamu akan ngomong? Setelah dua puluh dua menit berlalu akhirnya suasana terpecah.  Matamu menatapku. Continue Reading…