Ramadhan Bercerita

manpraying-2

Pagi ini (24/07/14). Tepat sebelum matahari terbit saya akan berbagi cerita di bulan ramadhan tahun ini. Ah, bukan, bukan! Bukan saya, tapi kali ini ramadhan yang akan bercerita. Bulan ramadhan yang banyak dinantikan sejuta umat muslim, tak terkecuali saya dan keluarga. Bagi kami bulan ramadhan adalah bulan yang sangat tepat untuk melipatgandakan pahala, semua orang sependapat dengan itu. kami sangat bangga dengan hadirnya bulan ramadhan, sebab aktivitas menjadi berbeda dari biasanya. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, semua berbau pahala. Masjid-masjid yang hidup dengan shalat tarawih sepaket bersama tadarus hingga larut malam. Suara petasan yang tak berirama dimana-mana. Sahur ramai-ramai bersama sekumpulan anak-anak relawan membawa alat musik seadanya berjalan di jalanan, sukses membangunkan kami dari tidur malam yang hanya beberapa jam. Dan suasana senja dihiasi jiwa-jiwa yang sibuk mencari takjilan—bahkan gratisan. Dan jadwal bukber dimana-mana yang entah tak peduli uang kami tersisa berapa—yang penting bersama. Bagi kami, semua aktivitas itu wajib dikerjakan, karna kita tak tahu apa mungkin semuanya terulang lagi di tahun mendatang. Semoga saja. Amiin.

Sebelum datangnya ramadhan, saya sangat tak sabar menantikan kehadirannya. Sebab bagi saya ramadhan adalah sesuatu yang sangat luar biasa, bisa berkumpul bersama keluarga, kerabat, hingga saudara-saudara. Barangkali, ramadhan kali ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Karna, yang biasanya bukber dengan teman-teman sekolah biasa-biasa saja, kali ini menjadi luar biasa, tak hanya buka bersama namun sekaligus saling mengobati rasa rindu yang hampir jarang sekali kita berjumpa, karna sekolah kami yang sekarang di luar kota. Sungguh moment yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Ada kebahagiaan tersendiri di dalamnya.

Kami yang selalu bercanda ketika berjumpa, bercerita dengan sukarela tanpa ada perintah dari siapa-siapa. Saling bertukar pikiran yang entah kami tak peduli, karna inti perjumpaan kita adalah hanya ingin melepas rindu yang sudah lama membeku. Melepas tawa tanpa kehampaan jiwa. Dan bercanda bukan dari biasanya. Yang penting kami bahagia. Tanpa beban apa-apa.

Continue Reading…

Iklan

Luka

13915912751686292845

Tak perlu lagi kamu pergi, cukup berhenti disitu dan ratapi aku. Kini, kita saling menitip luka di setiap langkah dalam dada, karena dengan hadirnya luka—kita sadar, bahwa tak ada cinta yang sempurna. Kecuali, cinta orang tua dan Muhammad pada umatnya. Mereka mencintai bukan karna suka ataupun apa, namun ingin kita berbakti kepadaNya.

Aku tak mau mengenal apa itu luka—barangkali semacamnya. Ia diam-diam menyelinap dalam hati yang hampa—bahkan waktu kita baru mengenal cinta—terlalu dalam menyikapinya. Terkadang orang lupa bahwa apa-apa yang kita punya, seakan-akan miliknya. Bukankah semua titipan Tuhan—dalam permainan duniaNya yang fatamorgana. Kita tahu. Ini dunia kita? Saling suka. Bermain cinta. Kemudian lupa—bahkan tak ingat apa bila kita sedang lupa. Atau sekedar pura-pura lupa?

Kadang, malam selalu mengingatkan kita pada orang yang kita cinta dengan menghembuskan angin-angin rindu pada dinding hati yang hampa—lalu  ingat. Ia hadir dalam mimpi kita. Lalu membangunkan kita dari mimpi panjang. Kemudian lupa—tak ingat apa. Kau sangat apik dalam menghibur kami, semesta.

Sesuatu yang kita lupa barangkali sesuatu yang kita cinta. Sebagaimana kalimat bijak Mario Teguh berkata: melupakan seseorang yang kita cinta, sama sulitnya seperti mengingat orang yang tak pernah hadir dalam hidup kita.

Rasa

 With_Love_by_h23b

Ada yang rindu: Masa lalu. Segala keterpisahan ini akan menumbuhkan rasa yang tak biasa dari biasanya. Berbeda dari sebelumnya. Kita yang jarang bertegur sapa. Merasa hampa. Barangkali lupa. Bahwa dalam alam bawah sadarmu, ada yang rindu—namun ia memilih malu untuk menutupinya.

Ada yang menangis: Kamu. Masih terdiam dalam rintih. Menahan perih. Segala yang terlewatkan sudah tak bisa dikembalikan, atau terlupakan. Hanya malam yang mengerti saat kamu sedih, tanpa mereka pamrih.

Ada yang berharap: semua usaha kebertemuann ini abstrak. Tak jelas, bahkan remang. Kini, kamu—aku hanya bisa berharap, bahwa keterpisahan ini akan segera saling merindu jumpa. Menumbuhkan rasa sekedar saling menyapa.

Ada yang berbahagia: tak ada yang lebih indah dari perjumpaan. Kini, kamu berjumpa dengan hidup barumu yang lebih sempurna. kini, aku sedang berbahagia melihat kesempurnaanmu sekarang, namun nyatanya tak bahagia. Hanya hampa yang terasa.

Ada yang saling suka: Tak ada yang mengira. Kamu dan aku saling bertatap mata. Menumbuhkan rasa. Apa ini yang dinamakan cinta?

Rasa yang istimewa.

Jarak, Waktu dan Rindu

bc3b6eca93e05dcbac40ae8d8143bdf0-d2gj8uk

Rindu. Ia kadang merubah malam minggu menjadi malam yang syahdu di antara dua manusia yang tak tau—apa sebenarnya jarak dan waktu, kemudian menyulapnya menjadi manusia sok lugu dan pemalu.

Tak perlu berjalan terlalu jauh bila ingin dirindu, biarkan jarak dan waktu menjadi pemisah hati dan pikiran yang lugu. Kamu cukup menikmati segalanya—duduk manis dengan dagu yang tertunduk dan membayangkan: kita sedang berada di lorong waktu yang kita tak tahu kapan waktunya untuk bertemu.

Apa yang bisa dibanggakan dari rindu, bila kita masih seperti satu koin yang mempunyai dua sisi berbeda. Kamu yang selalu bertahan dengan persepsimu, yang entah darimana didapati dan sejak kapan kau pelajari? Kamu bukan seperti itu. sedangkan, aku masih terduduk manis di setiap malam yang kulalui—bahkan tragis, sekedar bertanya pada setiap angin yang membawaku pada titik ini: akankah dia merasakan angin yang sama menjelang tidurnya?

Kali ini, biarkan aku bicara pada hatimu yang dilindungi sejuta persepsi yang mencari arti dari segala arti: kau tak mungkin bisa sendiri, karna kau tak biasa sendiri—melewati hari tanpa ada yang menemani. Hatimu yang dulu sempat ku isi—tak mungkin kau menyembunyikan kerinduan ini yang mempunyai banyak arti.

Ramadhan, beda!

Alone-with-God

Malam ini (18/07/14), secangkir kopi plus sepaket pisang keju yang baru saja aku beli di alun-alun kota langganan bapak. Tak ada yang beda dengan rasanya. Taburan keju, olesan selai stroberi dan susu coklat yang membalut di tiap pisang. Sudah ada di hadapanku dengan harga lima ribu rupiah. Ah, bukan itu yang aku share. Tapi, kopi plus pisang keju malam ini adalah panduan untuk membuat sajak-sajak kegundahan. Atau sekedar bercengkrama dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa karna ’tak ku berikan ia tempat sekedar hinggap di tubuhku’.

Malam ramadhan kali ini ada yang beda, bukan malam ini saja, malam-malam sebelumnya atau selanjutnya akan beda. Iya beda, karna tak ada yang menraktir saya pisang keju. Ah lagi-lagi pisang keju. Sudah. Lupakan pisang keju.

Ada senja yang ramai: suara petasan dimana-mana, kendaraan bermotor dengan nada yang tak beraturan, orang yang sibuk mencari takjilan, dan para pemburu takjil gratis berkeliaran. Suasana yang sama, tak pernah berubah dari tahun ke tahun di kota kelahiran. Adakah kalian disana, dengan aktivitas yang serupa? Lagi-lagi aku mulai mengingat-ingat. Bagaimana bisa aku memutar waktu untuk sekedar mencari takjilan, tarawih dan buka bersama dengan anak yatim plus kalian. Aku harap masih ingat. Kulewatkan malam-malam suci ini dengan berandai-andai, meski angin malam tau, bahwa imajinasi ini tak akan sampai—tak ada makhluk hidup yang mendengar.

Meski keping-keping hati ini roboh akibat angin yang menerpa. Setidaknya kita masih bertegur sapa, meski tak seikhlas dulu, tak setulus waktu itu. Continue Reading…