Ramadhan, aku rindu!

Tak ada yang indah dengan bulan ramadhan, kita menantimu dengan memanjatkan doa-doa agar bertemu denganmu kembali. Tak ada yang lebih istimewa dibanding bulanmu, berkumpul bersama ketika senja mulai memberi tanda adzan segera berkumandang. Kami mulai dengan membaca doa kemudian pembukanya makanan pemanis (kurma) sebagai pembatal puasa kami seharian.

Oh ramadhan, kadang aku pura-pura rindu padamu yang selalu memberi kejutan dan keberkahan yang tidak biasa di bulan-bulan lainnya, di setiap tidur kami adalah ibadah.

Benar sekali, sukacita kamu menyambut datangnya bulanmu. Lalu apa lagi yang kami tunggu? Suara petasan di setiap jalan, lantunan ayat suci al-quran hingga larut malam, masjid-masjid kembali hidup, kitab-kitab kembali dibersihkan dari debu, berbondong-bondong kami berangkat shalat taraweh meski berat sebab perut kami masih dalam keadaan kenyang keterlaluan, pukul tiga acara televisi sudah ramai dengan lawakan-lawakan yang tidak lucu, dan seperti biasa lagu-lagu religi diperdengarkan di mana-mana.

Inikah juga yang kau harapkan wahai Ramadhan?

Kami melihat agenda harian kami: Senin buka bersama dengan X, Selasa buka bersama dengan Y, Rabu buka bersama dengan Z, Kamis.. Jumat.. begitu.. Continue Reading…

Masakan Ibu

Biarkan sang matahari menerangi lapisan bumi, biarkan sekelompok burung bernyanyi ikut memeriahkan pagi dan biarkan anakmu ini menyipi masakanmu, ibu!

Sudah beberapa bulan ini anakmu rindu pada masakanmu dan biarkankanlah dia mengahabisi semua masakanmu yang mereka tak tau betapa nikmatnya racikan yang kau buat untuk keluarga ini, sungguh seperti restorant bintang lima yang tak pernah ada di daerah ini. Kau buat dengan penuh cinta hingga anakmu tak pernah absen untuk pulang ke rumah menyicipi masakanmu, ibu! Bau yang berjarak 5 meter dari dapur itu sudah memanggil-manggilku untuk segera ke dapur. Bisakah kita mulai degan duduk melingkar ibu, read more

Berguna, Lalu bahagia!

Screenshot_90

Kebahagian itu mudah dibuat  tapi sulit di pertahankan, semua orang ingin berbahagia dengan pilihan mereka. Aku, kau, mereka dan juga semua orang ingin berbahagia. Semua permainan di dunia ini bukan tentang siapa yang harus berbahagia dan siapa yang harus sengsara, melainkan bagaimana  rasa itu tetap sama seperti sejak awal memulai kebahagiaan itu. Aku tahu tidak ada manusia yang sempurna, setiap orang pernah mengeluarkan air mata karna mereka gagal dalam berupaya berbahagia, tapi bukankah itu rencana Tuhan yang mereka tidak sadari?

Kita bukan untuk dicipatkan untuk saling berbahagia melainkan dicipta untuk saling berguna sesama dan mendapatkan kebahagian dari-Nya. Kebahagian hanya milik mereka yang mau mendekatkan diri kepada-Nya.

Bersiaplah menjadi orang berguna untuk diri kita  sendiri dan orang lain, sebab dengan kegunaan itu kita mendapat sebuah kado istimewa dari Sang Pencipta berupa “Kebahagiaan”

Pergilah, Tapaki, Jemput dan Tunggu!

Screenshot_89

Hai, dirimu yang selalu menduga-duga ! Tak perlu kau menyibukkan diri untuk mengurus semua pikiran yang mengusikmu sesaat, kita bukan sepasang burung merpati yang kemana-mana harus saling menyeimbangkan dan selalu berdua. Aku bukan superhero yang selalu bisa membuatmu merasa aman dalam perjalanan, aku hanya seorang manusia biasa yang sama sepertimu dan orang lain. Bukan karna kamu takut untuk pergi sendiri, takut jatuh untuk menapaki rintangan dan menjemput tujuanmu.

Pergilah, Tapaki dan Jemput! Tak usah kau ragu dengan apa yang kamu ingin lakukan dan tak usah menunggu aba-aba dari manusia biasa ini.

Pergilah dengan segala keyakinan hatimu dan Tuhan tidak akan membiarkanmu pergi sendiri, Tapakilah apa yang seharusnya kamu tapaki, gunung yang berduri pasti ada rerumputan yang menunggu untuk merebahkan punggungmu sejenak dan menghilangkan pikiran yang rumit bagimu, dan Jemputlah tujuanmu dengan penuh kegembiraan dan lepaskan semua rantai gajahmu yang selama ini menahanmu untuk bisa berbahagia dan tunggulah aku yang akan datang padamu tanpa sepengetahuanmu, biarkan ketertebakan ini menjadi sebuah perjalanan cinta yang sudah disiapkan.

Sebab cinta adalah kesiapan.

Kesiapan untuk menjaga, merawat, dan menumbuhkan seseorang menuju derajat kehidupan yang lebih tinggi. Dan kesiapan selalu mensyaratkan dua hal: kemantapan hati dan kemampuan. Kita baru bisa dikatakan siap mencintai bila hati kita mantap dan kita mampu menunaikan pekerjaan-pekerjaan para pecinta: menjaga, merawat, dan menumbuhkan.

Belajar

Kamu ingin dikenang. Dirimu yang mini itu mau melompat semaunya, sampai semua merasa ia ada. Daun yang gugur karena umur, anak yang menangis karena dimarah, kucing yang mendengus mencari kepala ikan, semua mengamini. Semua ingin kau bahagia, dan dikenang.

Tinggallah sekarang kamu yang punya kendali. Semua pintu-pintu kemenangan itu, kamu yang punya kunci. Hanya saja mungkin kamu belum tahu caranya, atau kamu belum menemukan pasangan kunci dan pintu yang serasi…………….